Sastra  

Membeli Beras | Raudal Tanjung Banua

Membeli Beras. Foto: Pixabay
Lowongan Kerja

DI kampungku, dulu, ada sebuah ungkapan yang mencerminkan sulitnya keadaan, yakni: “membeli beras”. Jika ungkapan itu terdengar, pertanda ada yang tak beres.

“Anak banyak, penghasilan tak tetap, dan harus membeli beras pula,” begitu orang menggambarkan nasib sangsai, dan yang menarik, situasi itu memiliki keterhubungan yang jelas dengan beras!

Kenapa beras? Tentu saja, karena itu kebutuhan dasar paling riil, harus ada setiap hari. Anda boleh berslogan keanekaragaman pangan, tapi yang namanya beras tetap tak tergantikan. Makan tanpa lauk masih mungkin, asal ada nasi, kami bisa “makan dengan garam”. Karena itu saya suka judul novel Suparto Brata, Tak Ada Nasi Lain, nasi yang bersumber dari beras. Aneh jika belakangan ada kampanye yang minta warga mengurangi konsumsi beras. Bahkan seorang pejabat tinggi pernah minta rakyat mengurangi makan nasi. Itu bukan saja memisahkan rakyat dari kebutuhan pokoknya sehari-hari alih-alih melegitimasi alih fungsi lahan pertanian sambil buka kran impor beras lebar-lebar.
  
Kembali ke kampung. Ungkapan “membeli beras” atau “mambali bareh”  di kampung saya dianggap titik nadir kemiskinan. Sebab itu artinya, untuk kebutuhan pokok dan paling dasar warga harus bertransaksi lebih dulu. Dan bagi orang kampung itu tak masuk akal. Kampung saya, di bilangan bekas Bandasapuluah, tepatnya Kecamatan Sutera sekarang, sebenarnya kawasan pesisir, di tepi Samudera Indonesia, namun wilayah ini juga berada di kaki Bukit Barisan di mana hamparan sawah terbentang.

Akibatnya sawah di kampung saya tak dapat dikatakan luas sekali, namun sistem pusaka tinggi telah membuat hampir semua keluarga mendapatkan bagiannya. Sebagian yang tak punya sawah ulayat bisa tetap bersawah dengan cara menyasiah (menyewa dengan takaran padi). Tidak semua  sawah pula dialiri air irigasi yang cukup, sebagian besar malah sawah tadah hujan. Namun berkat siklus yang tak putus, aktivitas bersawah tertata wajar; turun ke sawah pada musim hujan, dan bertanam semangka atau palawija pada musim kemarau. Karena turun ke sawah rata-rata hanya sekali atau dua kali setahun, maka biasanya orang kampung menyebutnya dengan “bertahun” atau “pertahunan”.

Hasil panen padi jarang yang dijual, karena “menjual padi” sama saja dengan “membeli beras”; sebab memang akan begitu akhirnya. Barangsiapa yang menjual padi usai panen, maka nanti juga akan terpaksa membeli beras, dan itu tetap gejala kurang beres. Bukan berarti tak ada yang menjual padi habis panen, tapi sekedarnya, buat upah menyabit dan mengirik atau mengeluarkan sasih sawah—bagi yang menyasih. Kadang biaya panen dapat teratasi berkat kerjasama, saling sumbang tenaga; saat sawah si anu panen, maka petani lain akan ikut membantu, begitu sebaliknya. Dengan demikian, ongkos finansial dapat ditekan dan jika hasil panen katakanlah berkisar antara 25-30 karung goni, maka yang “dapat naik” ke rumah bisa sekitar 20-25 karung. Itu sudah bagus.Nah, padi yang sudah bersih itu—baik bersih dari yang hampa maupun bersih dari biaya-biaya—akan dinaikkan ke atas rumah. Umumnya rumah waktu itu masih rumah kayu berlantai papan, atau rumah batu (beton) tapi ada bagian dapur atau belakang yang disediakan sebagai tempat meletakkan padi-padi itu. Maklumlah, di daerah pesisir bukan hanya bentuk rumah gadang yang tidak seperti di darek, juga keberadaan rangkiang (lumbung padi) di halaman tak begitu lazim. Maka lumbung padi secara tak langsung berada di bagian rumah yang tadi disebutkan.

Baca Juga:  Kedatangan Portugis di Suvarnnadwipa - Arif P Putra

Terakhir, biasanya padi itu dialasi tikar lebih dulu, kemudian ditutupi lagi dengan tikar pandan di bagian atasnya. Ruang di atas tikar itu masih bisa dimanfaatkan penghuni rumah untuk sekedar tempat duduk, mengaso, bahkan jadi ruang tidur. Hawa di atasnya nyaman dan hangat. Saya adik-beradik biasa memeram buah-buahan yang masih bangkar (tua, tapi belum masak) di dalam padi yang terhampar itu, seperti ambacang, mangga atau alpukat.Apabila beras terakhir dalam ketiding (tempat beras) habis, orang tua kami tinggal mengambil beberapa sukat padi di balik tikar itu, lalu dijemur di halaman. Kami menjaganya dari serbuan ayam-ayam. Menjelang petang, padi yang dijemur diangkat abak atau amak, lalu kami diminta membawanya dengan sepeda ke heler (mesin gilingan padi) yang ada di batas kampung. Waktu itu heler bisa dihitung dengan jari—heler Mak Haji Oran, heler Suli dan heler Buyung, dan itu menjadi pusat peredaran beras di kampung. 

Saat mesin heler bekerja—dengan suasana dan aroma yang khas—tak lupa kami mengambil dedak padi untuk pakan ayam atau itik piaraan. Masa itu, bukan hanya hewan piaraan yang dapat makan dari dedak padi, tapi kami sehari-hari juga makan dari beras yang ditumbuk dari padi simpanan sendiri. Saking menyatunya siklus itu dalam hidup kami, membuat kami benar-benar tak pernah memikirkan soal nasi, apalagi berpikir membeli beras.

Bertahun-tahun kemudian, ketika saya bertemu quate Eduard Douwes Dekker alias Multatuli, saya membenarkannya karena pernah merasakan,”Kita bergembira bukan karena menuai padi; kita bergembira karena menuai padi di sawah kita.”

Ali Tanjung
  • Dapatkan berita dan artikel terbaru bandasapuluah.com di Google News
  • Gabung di Grup Facebook Kaba Bandasapuluah untuk mendapatkan informasi berita terbaru dan terlengkap hari ini.
  • Update terus berita terbaru dan terlengkap hari ini dengan menyukai Halaman Facebook bandasapuluah

Tinggalkan Komentar