Ampiang Parak Dikenang Tua Kerapatan

Mampir shalat ashar di Masjid Baiturrahman Padang Tae, 1 Desember 2021, dalam perjalanan penelitian nagari model desa adat Indonesia, dipasilitasi Kemekeu RI, sekaligus perjalanan jurnalistik. Masjid sederhana di pinggir jalan raya Padang – Mukomuko, yang posisinya berada dalam Nagari Ampiang Parak itu, menjanjikan. Nyaman dengan mawadhdha’ (tempat berwuduknya). Cukup tunazhzhafa (bersih) dan tuthayyaba (indah) sebagai syarat utama masjid.

Ba’da shalat, terkenang nagari Ampiang Parak, yang posisinya penting di Banda-10. Banda 10 merupakan satu wilayah kultur Pesisir Selatan dulu. Ampiang Parak didaulat sebagai tuo kerapatan Banda 10. Sebab du Ampiang Parak ini dulu beristana rajo Daulat Sungai Pagu Syamsuddin turunan kesultanan Pagaruyung. Istananya disebut orang tua di Banda 10 di Ambacang Manih di Ampiang Parak.

Banda – 10 itu adalah 10 Kota Pantai di muara sungai yang dulu permai di singgahi kapal dagang asing. Di antaranya Portugis Cina dll abad ke-16 yang budigarnya orang rupit berhasil dihalau panglima pantai barat Sunatera Tan Sridano. Setelah itu disusul Belanda dan Inggiris yang mesra menjadikan pantai barat menjadi percaturan dagang lada dan emas di pantai barat itu.

Sepuluh Kota Banda 10 itu direkam oleh Rusli Amran adalah 10 nagari, yakni (1) Batangkapas, (2) Taluk. (3) Teratak, (4) Surantih, (5) Ampiang Parak, (6) Kambang. (7) Lakitan, (8) Palangai, (9) Sungai Tunu, dan (10) Punggasan.

Banda 10 adalah kapak radai (mekaran keturunan ibu di rantau) dari sapiah balahan (keturunan ibu di rantau) Pagaruyung yakni “Alam Surambi Sungai Pagu”. Banda 10 pernah jadi tungkatan Kesultanan Indrapura. Banda 10 diapit dua nagari rajo yakni kalang ulu nagari rajo Bungo Pasang dan tumpuan nagari rajo Air Haji.

Sepuluh nagari Banda 10 itu dipimpin oleh 10 rajo. Di Ampiang Parak ini, rajonya dituakan, disebut tuo kerapatan Banda 10. Dalam peradilan adat pada perspektif pelaksanaan hukum adat Minangkabau, kalau tidak selesai sengketa adat di 10 nagari Banda 10, maka beracara peradilan adat di tuo kerapatan Ampiang Parak ini.
Beracara di peradilan adat pada nagari-nagari di Banda 10 itu mengikuti sistem campuran kelarasan koto piliang dan bodi caniago, “bajanjang naik batanggo turun”. Dekat dengan sistem demokrasi deliberatif.

Ada lima tangga, limbago adat, yang menjadi based peradilan adat itu. Yakni (1) limbago rumah tanggo, (2) limbago paruik, (3) limbago kaum/ jurai, (4) limbago suku dan (5) limbago nagari di Banda 10. Kalau tidak selesai perkaranya di nagari masing-masing 10 nagari itu, maka naik banding ke tuo kerapatan Banda 10 di Ampiang Parak. Kalau tidak selesai di Ampiang Parak naik banding ke pucuk rantau yakni kerajaan alam surambi Sungai Pagu. Tak selesai di Sungai Pagu, naik Banding ke Basa Ampek Balai di Kesultan Minangkabau Darulqarar di Pagaruyung.

Dari struktur lembaga peradilan adat Minangkabau di Banda 10 itu, kita terkenang Ampiang Parak tuo kerapatan. Di sini tsk ada keruh tak akan jernih, tak kusut tak akan selesai. Amping Parak simbol semangat optimisme orang Minang di Banda 10, semua seketa pasti selesai perdamaian adatnya. ***

  • Dapatkan berita dan artikel terbaru bandasapuluah.com di Google News
  • Gabung di Grup Facebook Kaba Bandasapuluah untuk mendapatkan informasi berita terbaru dan terlengkap hari ini.
  • Update terus berita terbaru dan terlengkap hari ini dengan menyukai Halaman Facebook bandasapuluah
Zarfi Deson

Zulhendri

Tinggalkan Komentar