Surantih dalam Puisi | Indrian Koto

Senin, 10 Januari 2022 - 13:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Surantih dalam Puisi. Foto: Indrian Koto

Surantih dalam Puisi. Foto: Indrian Koto

Muara Surantih

i
sebelum muara itu dibangun
— sungai yang meliuk serupa ular,
kini lurus menancap laut—
kami mempercakapkannya dalam banyak ragam
tentang yang mungkin dan tak mungkin
berpulun di dalam pantun,
berpiuh dalam umpama-umpama baru.

secepat tahun-tahun itu runtuh
kami memiliki muara baru
bagan boleh lewat, tak cemas bakal tersangkut
boat dan payang menyelinap di celah ombak.

kami saksikan semua dari jembatan
di atas perlintasan yang datang
dan akan segera hilang.

Baca Juga :  Kedatangan Portugis di Suvarnnadwipa - Arif P Putra

secepat dibangun, secepat itu pula kita abaikan.

ii
yang diangkut dari hulu tak selalu
sampai muara jauh
di alir sungai semua bertemu.

sungai dengan banyak cabang
hulu manakah yang memberi lebih?

iii
di muara surantih
bagan tua menampung letih pelautnya
boat-boat yang tersesat di antara
keranjang-keranjang kosong, sabun cuci, pondok teri
harga solar, bekas sampo, serta hutang di kedai minum.

mungkin buih sabunmu yang di hulu
berbekas di sini, di antara kutukan yang diterima muara
minyak-minyak tumpah, anak-anak mandi,
bekas parfum, bungkus mie instant,
kaleng kosong,
dan hari pekan yang mencemaskan
menyelinap di antara bangkai bagan, bekas rumah,
dan laut terus menelan daratan.

Baca Juga :  Sejarah Cina di Banda Sapuluah, Pesisir Selatan

bekas galian menyisakan pulau kecil
tempat kerbau tidur nyenyak di pondok teri

di muara surantih
semakin jauh bau ikan
semakin lengang lenguh bagan.

surantih-yogya 1020

Halaman Selanjutnya: Puisi Bukit Taratak

Follow WhatsApp Channel Bandasapuluah.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Drama Pasia Santan: Bawahannya Terlibat Kecelakaan Maut, Pak Anwar Berlalu Begitu Saja
Di Akhir Jabatan Pak Anwar: Banyak Dusta, Kritik, dan Blokir Tanpa Ampun
3 Tahun Kepemimpinan Pak Anwar di Desa Pasia Santan: Kekayaan Menumpuk, Rakyat Terpuruk
Hendra vs Anwar: Drama Kepemimpinan di Desa Pasia Santan
Penyair Layla Muhaydirah
Kedatangan Portugis di Suvarnnadwipa – Arif P Putra
Hujan di Akhir Januari | Sri Jumaini
Dendang Membara Pirin Bana | Raudal Tanjung Banua

Berita Terkait

Jumat, 5 Juli 2024 - 21:55 WIB

Drama Pasia Santan: Bawahannya Terlibat Kecelakaan Maut, Pak Anwar Berlalu Begitu Saja

Sabtu, 29 Juni 2024 - 10:01 WIB

Di Akhir Jabatan Pak Anwar: Banyak Dusta, Kritik, dan Blokir Tanpa Ampun

Senin, 24 Juni 2024 - 09:14 WIB

3 Tahun Kepemimpinan Pak Anwar di Desa Pasia Santan: Kekayaan Menumpuk, Rakyat Terpuruk

Rabu, 12 Juni 2024 - 21:48 WIB

Hendra vs Anwar: Drama Kepemimpinan di Desa Pasia Santan

Senin, 26 Juni 2023 - 14:25 WIB

Penyair Layla Muhaydirah

Berita Terbaru

error: Content is protected !!