Pengaruh Perang Padri Ke Pesisir Selatan

Kamis, 11 Februari 2021 - 02:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pesisir Selatan

Pesisir Selatan

Perang Padri,secara langsung tidak dirasakan di Pesisir Selatan. Namun sedikit banyaknya, getar-getar perang itu dirasakan juga karena sikap Belanda di kala itu.

Mereka memperkuat pemerintahan penjajahan di pantai barat Sumatera setelah Raja Pagaruyung Sultan bagagarsyah bersama 20 penghulu di Darek, pada tanggal 10 Februari 1821, menyerahkan Minangkabau kepada Belanda asal Raja dapat dibantu oleh Belanda untuk melawan serangan ulama (Padri).

Dengan penyerahan itu, Belanda mengatur pemerintahannya di Sumatera Barat. Untuk membantu raja Minangkabau, Residen Du Puy mendatangkan 200 tentara Eropa dari Batavia yang dipimpin Letnan Kolonel Raaff.

ADVERTISEMENT

space kosong

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mereka mulai menyerbu ke Darek dengan alasan membantu raja Minangkabau, dari gangguan Kaum Padri.

Anehnya, Residen mengatur pemerintahan di pantai Barat Sumatera ini, memperlakukan raja Minangkabau sebagai seorang pegawai.

Raja diangkat sebagai Regen Kepala Hoofd Afdeling Minangkabau, yang meliputi wilayah Datar-Datar, Tanah Datar bawah dan Lima Puluh Kota dan Agam. Daerah yang lain menjadi lepas. Dan raja menjadi bawahan Residen Belanda.

Baca Juga :  Dengan Lapau Nagari, Nasabah Bank Nagari Painan Semakin Dekat Dihati

Di daerah Pesisir yaitu antara Pariaman sampai Indrapura, raja Minangkabau tidak punya kuasa lagi. Di sana dibentuk pemerintahan dalam satu Hoofd afdeling, yang dipimpin oleh seorang Regen kepala pula, yaitu Tuanku Panglima Main Alamsyah, yang berkedudukan di Padang.

Ia memimpin para Regen di keregenan Pariaman, karagenan Padang, keregenan Pulau Cingkuak (kemudian pindah ke salido) dan keregenan Air Haji (kemudian pindah ke indopuro)

Menurut laporan Stuers, penduduk yang berdiam di XIII Koto (Selatan Solok) dan sungai Pagu merasa dirinya Merdeka. Demikian juga Kerinci.

XIII Koto dan Sungai Pagu banyak pengaruhnya kepada penduduk Pesisir Selatan, oleh karena penduduk di Pesisir berasal dari 2 daerah itu. Pengaruhnya besar kepada Pesisir Selatan.

Ketika berlangsung Perang Padri ke XIII Koto dan Sungai Pagu tidak diganggu oleh Padri. Pemerintahan Belanda juga tidak masuk. Maka wajar mereka merasa Merdeka, demikian Stuers.

Selanjutnya, Stuers melaporkan pula tentang Kerinci. Ia mengatakan bahwa di Kerinci juga banyak kaum Haji pulang dari Mekah.

Mereka juga mengadakan gerakan melawan aturan-aturan lama dari agama berhala yang masih kental di sana. Gerakannya hampir sama dengan kaum ulama Padri di Darek.

Baca Juga :  Hari Ini, Sijago Merah Mengamuk di Tapan dan Tarusan

Oleh sebab itu, Stuers menganjurkan Pemerintahan Belanda membentuk satu afdeling Wilayah selatan.

Setelah itu nampaknya Belanda mengatur lebih intensif pemerintahan di selatan namun masih berada di bawah Hoofd Afdeling Padang.

  1. Tarusan dijadikan satu keregenan. Sultan Madrid gelar Tuanku Rajo Hitam diangkat menjadi Regen disana sejak tanggal 8 Maret tahun 1824.
  2. Wilayah dari Bayang sampai Air Haji dijadikan satu keregenan pula. Regen pertamanya bernama Tuanku salido bernama marah Jamjam menjadi Regen di wilayah itu sejak tahun 1824. Khusus mengurus Nagari Salido diangkat Sutan Belimbing memimpin 6 penghulu untuk menggantikan kedudukan marah Jajam di Nagari (distrik).
  3. Sultan Indrapura, Marah Yahyah, dijadikan pegawai, diangkat sebagai Regen di keregenan Indrapura sejak tahun 1824.

Sumber:

  • Arsip Nasional
  • Laporan Controller BA Bramus (1936)
  • Laporan Controller Erens (1931)
  • Laporan GA Lapre

Dimuat di Forum Lintas Rantau No. 16 tahun V hal 21.

Berita Terkait

Tan Sri Dano, Panglima dan Ulama Penakluk Rupit
Ayah Buya Hamka, Abdul Karim Amrullah Ternyata Pernah Menuntut Ilmu Agama di Pesisir Selatan
Basurah Asal Usul Kaum Kampai ASSP – Bandasapuluah
Banjir Besar Pesisir Selatan 1915, Ketinggian Air Capai 3 Meter dan Puluhan Orang Meninggal
Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang Wajib Tahu, Inilah Asal Usul Nama Parak Jigarang
M Zen, Dokter Pertama Pessel yang Obati Masyarakat dari Rumah ke Rumah
Kala Bupati Pesisir Selatan Harus Keluar Masuk Hutan Demi Hadapi Penjajah
Sejarah Cina di Banda Sapuluah, Pesisir Selatan
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 17 September 2023 - 11:20 WIB

Tan Sri Dano, Panglima dan Ulama Penakluk Rupit

Rabu, 2 Agustus 2023 - 08:05 WIB

Ayah Buya Hamka, Abdul Karim Amrullah Ternyata Pernah Menuntut Ilmu Agama di Pesisir Selatan

Minggu, 12 Maret 2023 - 21:42 WIB

Basurah Asal Usul Kaum Kampai ASSP – Bandasapuluah

Kamis, 17 November 2022 - 12:41 WIB

Banjir Besar Pesisir Selatan 1915, Ketinggian Air Capai 3 Meter dan Puluhan Orang Meninggal

Kamis, 6 Oktober 2022 - 16:02 WIB

Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang Wajib Tahu, Inilah Asal Usul Nama Parak Jigarang

Jumat, 26 Agustus 2022 - 14:14 WIB

M Zen, Dokter Pertama Pessel yang Obati Masyarakat dari Rumah ke Rumah

Rabu, 17 Agustus 2022 - 12:32 WIB

Kala Bupati Pesisir Selatan Harus Keluar Masuk Hutan Demi Hadapi Penjajah

Selasa, 1 Februari 2022 - 21:04 WIB

Sejarah Cina di Banda Sapuluah, Pesisir Selatan

Berita Terbaru