Keunikan Doa Selamat dalam Prosesi “Manjalang Mintuwo” di Surantih

Minggu, 16 Februari 2020 - 14:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam Adat pernikahan di Surantih, setelah melaksanakan akad nikah di rumah anak daro pada tengah malam atau dini hari, maka pihak anak daro akan mengadakan doa selamat. Setelah selesai menggelar doa selamat maka marapulai kembali ke rumahnya bersama rombongan yang ikut serta menghadiri prosesi akad nikah tersebut.

Selanjutnya prosesi yang dilakukan adalah Manjalang mintuwo. Manjalang Mintuwo  adalah salah satu tahapan adat perkawinan Nagari Surantih yang dilaksanakan dari rumah anak daro. Di rumah mintuwonya anak daro disandingkan dengan marapulai di pelaminan yang telah disediakan, guna memperkenalkan anak daro pada keluarga marapulai.

Berdasarkan Buku “Alam Sati Nagari Surantih ( Asal Usul, Adat Istiadat, dan Monografi Nagari Surantih )“, dituliskan, sebelum penjemputan marapulai ke rumah orang tuanya oleh keluarga anak daro pada sore harinya. Kedua pengantin disanding menuju ke rumah mintuwo diiringi oleh kerabat dan karib yang telah diucok. Dalam tradisi ini anak daro yang datang ke rumah mintuwonya membawa sirih yang dibungkus dengan sapu tangan, kue dan nasi pandoa.

 Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Surantih, Rusli Dt. Rajo Batuah, mengatakan, setelah magrib anak daro bersama marapulai akan melaksanakan doa selamatan yang dihadiri oleh Niniak mamak, kamenakan dan masyarakat sekitar . Setelah pembacaan doa selesai , orang yang hadir akan memberi sejumlah uang kedalam sebuah tempat. Pemberian uang tersebut dimaksudkan untuk basa-basi terhadap apa yang dimakan oleh tamu yang hadir 

Rusli juga menuturkan bahwa uang yang terkumpul tersebut, diberikan kepada anak daro dengan maksud untuk mengimbangi pembawaan anak daro. Dikatakan, pemberian uang tersebut tidak pula diwajibkan kepada semua yang hadir ,akan tetapi adalah orang yang patuik artinya orang yang memiliki uang. Bila tidak punya uang maka tidak diwajibkan untuk memberi.

 Setelah uang diterima oleh Anak daro maka anak daro bersama marapulai akan meninggalkan rumah Marapulai, dan kembali ke rumah anak daro. Sejak hari itu marapulai menginap di rumah anak daro, pada malam pertama dan ke dua biasanya marapulai membawa inang pengasuh dan teman sejawat untuk menemaninya.

Berita Terkait

Efektivitas PPKM Mikro di Kelurahan Perlu Ditingkatkan
Gerakan Nagari Mencegah Coronavirus: Warga, Perantau dan Pesan Sutera Bagikan Masker kepada Masyarakat
Memutus Penyebaran Coronavirus, Perantau dan Warga Koto Taratak Bagikan Masker
Kayu Aro Surantih, Indah namun Masih Tertinggal
Banyak yang tak terima pembagian beras dampak Covid-19, Ini Penjelasan Pihak Nagari Surantih
Sebanyak 255 KK Terima Pembagian Beras Dampak Covid-19 di Kenagarian Surantih
Ada di Luar Negeri, Berikut kemegahan Tampilan ‘Rumah Gadang’ di Dunia
Dualisme Kepemimpinan KAN Surantih, Camat Sutera Dinilai Offside
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 3 Mei 2021 - 14:22 WIB

Efektivitas PPKM Mikro di Kelurahan Perlu Ditingkatkan

Senin, 11 Mei 2020 - 22:31 WIB

Gerakan Nagari Mencegah Coronavirus: Warga, Perantau dan Pesan Sutera Bagikan Masker kepada Masyarakat

Minggu, 10 Mei 2020 - 13:17 WIB

Memutus Penyebaran Coronavirus, Perantau dan Warga Koto Taratak Bagikan Masker

Minggu, 26 April 2020 - 15:53 WIB

Kayu Aro Surantih, Indah namun Masih Tertinggal

Jumat, 17 April 2020 - 23:17 WIB

Banyak yang tak terima pembagian beras dampak Covid-19, Ini Penjelasan Pihak Nagari Surantih

Jumat, 17 April 2020 - 19:30 WIB

Sebanyak 255 KK Terima Pembagian Beras Dampak Covid-19 di Kenagarian Surantih

Minggu, 5 April 2020 - 22:07 WIB

Ada di Luar Negeri, Berikut kemegahan Tampilan ‘Rumah Gadang’ di Dunia

Jumat, 3 April 2020 - 21:11 WIB

Dualisme Kepemimpinan KAN Surantih, Camat Sutera Dinilai Offside

Berita Terbaru