Jampi-jampi Lagan: Antara Tauhid, Mistik dan Sastra

Senin, 15 Maret 2021 - 07:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi jampi-jampi lagan

Ilustrasi jampi-jampi lagan

Hadirnya jampi-jampi secara sosiologis ada kaitanyan dengan sikap budaya masyarakat tradisional pedesaan dalam pola hidup sehat, sejahtera dan aman.

Sikap budaya hidup sehat penduduk pedesaan itu dipolakan dalam konsep-konsep tentang penyakit, konsep esksistensi (keberadaan) manusia dalam macro cosmos di samping konsep sebab akibat dari tindakan baik atau buruk.

Jampi-jampi mempunyai kekuatan magis dan super natural, berada pada dua alam, yakni alam nyata dan metafisik. Penggunaannya bagi masyarakat tradisional secara antropologis sosiologis adalah dalam fungsinya sebagai penawar kehidupan agar hidup sehat, sejahtera dan aman.

ADVERTISEMENT

space kosong

SCROLL TO RESUME CONTENT

Secara aplikatif dalam prakteknya jampi-jampi benar saja berfungsi sebagai alat penolak bala, alat tangkal kekuatan ghaib, penyembuhan berbagai penyakit, alat pakasih (ajian pemikat yang dicintai), alat peningkatan produksi dan alat meraih kembali sesuatu yang hilang.

Melihat fungsi jampi-jampi ini yang secara substansial ada esensi kepercayaan, mistik menyarati bacaan sastra jenis mantra dalam penyembuhan penyakit misalnya, merupakan manifestasi dari kecenderungan sikap budaya hidup sehat yang tidak sepenuhnya percaya kepada cara pengobatan modern (cara medis).

Analisa ini beralasan dengan ditemukannya konsep religio-magis dalam penyembuhan berbagai penyakit dalam masyarakat tradisional. Pengobatan dalam konsep religio-magis ini masyarakat tradisional dominan di pedesaan menggunakan sarana dan cara sendiri dalam penyembuhan.

Cara dan sarana itu dalam penyembuhan penyakit sering berorientasi penggunaan;
(1) fasilitas-fasilitas seperti lambang berwujud jimat dan jampi-jampi,
(2) sumber daya alamiah menggunakan ramuan obat pribumi yang tradisional
(3) teknologi dalam bentuk keterampilan pijat dan sembur, serta
(4) barang-barang penyembuh lainnya.

Khusus pengobatan dengan penggunaan jampi-jampi itu oleh masyarakat tradisional sebenarnya mempunyai esensi kepercayaan yang dimungkinkan berakar dari tauhid, mistik dan esensi sastra jenis mantra yang mempunyai kekuatan magis. Di sini menariknya buku ini menjadi materi kajian ilmiah dalam bidang Tauhid dan kaitannya dengan Sastra dan Mistik.

Baca Juga :  Sempat Langka, Pasokan Pertalite di Pessel Kembali Lancar

Jampi-jampi yang diteliti Drs. H. Bakri Dusar ini di Lagan, Ranah Pesisir, Pesisir Selatan ini, sekarang masih banyak digunakan masyarakat dalam mempertahankan eksistensi dan berbagai kepentingan serta kebutuhan kehidupan masyartakat setempat.

Di Lagan, kata Bakri, masyarakat masih menggunakan Jampi-jampi untuk:
(1) kesehatan seperti mengobati orang sakit, umpamanya mengobati kumbu (diserang rasa dingin luar biasa), mengobati luka bakar, menghentikan kucuran darah sa’at terluka, mengobati sakit perut, mengobati orang tasapo (ditegur hantu jahat/ digangu makhluk halus), digigit binatang berbisa dll.
(2) untuk ketahanan diri dan pengaman hidup seperti menimbulkan keberanian umpamanya pengantar darah, pitunduk (menundukkan orang), pidareh (membuat orang berani), menjadi tungganai (orang yang mampu menjinakkan) harimau dan menangkal serangan binatang buas, gayuang (guna-guna untuk membuat lawan lumpuh, sejenis santet), memelihara tonggak tua (tiang utama) atau pemagar rumah dari kedatangan tamu tidak diundang (pencuri) dsb.,
(3) untuk pemeliharaan dan peningkatan produksi ekonomi pertanian (pangan dan ternak, perikanan) seperti untuk menangkal serangan hama padi (umpama pianggang, wereng, hama babi, tikus, serangan kemarau), mengobati ternak yang terluka, patah dan penyakit lainnya, pitunang memanggil ikan melalui alat tangkapnya,
(4) alat santet seperti gayuang (membuat lawan lumpuh, sakit bahkan mati), untuk gabaji (menimbulkan kebencian terhadap pasangan),
(5) untuk pemikat seperti fungsi pakasiah/ pitunang (menimbulkan rasa sayang/ dicintai) dan pitunang menangkap ikan dengan alat tangkanya seperti bagan, pukat, kail dll.

Baca Juga :  Setahun Jabat Wakil Bupati, Kekayaan Rudi Hariyansyah Naik 2 Persen

Dalam penggunaannya jampi-jampi Lagan ini diperlengkapi dengan peralatan tambahan seperti cincin, gelang, senjata tajam dan lain-lain. Alat-alat ini dijampi-jampi, agar mempunyai kekuatan magis.

Dalam melunakkan hati seseorang untuk dapat dicarikan jodoh dengan pakasiah misalnya, jampi-jampi diperlengkapi dengan alat-alat tambahan. Juga dalam mencari barang hilang dengan perantaraan setan/ iblis, berdo’a dengan memberi sesajian di tampat (tempat-tempat yang dianggap keramat dan sakti) dll., kadang bisa membaca mantra dan do’a-do’a yang tidak Islami.

Alat-alat perlengkapan Jampi-jampi Lagan itu dapat berbentuk ramuan. Ramuan itu bervariasi, seperti air dan minyak, tetumbuhan obat di antaranya sitawa, sidingin, sikumpai, siriah, pinang, kemenyan, daun jarak, kelapa hijau, asam (limau) puruik dll.

Di samping itu juga ada benda lain seperti benang 7 warna (disebut benang pincono) untuk alat gandun (jimat) sebagai penangkal yang diikatkan ke badan, telur, ayam putih. Namun ada pula jampi-jampi yang tidak disertai dengan ramuan, seperti do’a pitunduak, pidareh, gayuang, menundukkan harimau.

Pada perinsipnya Jampi-jampi Lagan sarat dengan esensi kepercayaan, apakah berakar dari nilai tauhid atau tidak namun yang jelas berkaitan dengan religo-magis. Nilai yang berakar dari ketauhidan, terlihat dalam bacaan-bacaan sastra mantra dan memasuki dunia mistik yang punya kekuatan magis.

Di antaranya bacaan sastra dalam bentuk mantranya banyak dimulai dengan keyakinan kepada Allah dan keesaannya (tauhid), ditandai dengan membaca basmalah dan di akhirnya sebagai kabulnya mantra dipatri dengan ucapan “tahlil” yakni “la ilaha illallah.

Selanjutnya: Selain itu juga ada yang berakar dari ayat Al-Qur’an….

Halaman:

Berita Terkait

Situs Sejarah Diduga Peninggalan Era Megalitik Ditemukan di Padang Pariaman
BKKBN Sumbar Gelar Pilot Project PEK Peduli Stunting di Padang Panjang
Seni Itu Kehidupan Kreatif
Pancuang Taba, Negeri Di Atas Awan yang Melahirkan Banyak Ulama di Kaki Bukit Barisan
Mengenal Tradisi Babako di Kecamatan Sutera
Temu Tim Pemrov Sumbar dengan KAN dan Datuk Pucuk 4 Suku serta Datuk 46 Pasie Laweh
Keberagaman Budaya dan Masyarakat di Provinsi Sumatera Barat
Keberagaman Budaya dan Masyarakat di Provinsi Sumatera Barat
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 15 Oktober 2023 - 19:57 WIB

Situs Sejarah Diduga Peninggalan Era Megalitik Ditemukan di Padang Pariaman

Rabu, 6 September 2023 - 13:25 WIB

BKKBN Sumbar Gelar Pilot Project PEK Peduli Stunting di Padang Panjang

Rabu, 6 September 2023 - 12:10 WIB

Seni Itu Kehidupan Kreatif

Minggu, 13 Agustus 2023 - 09:43 WIB

Pancuang Taba, Negeri Di Atas Awan yang Melahirkan Banyak Ulama di Kaki Bukit Barisan

Selasa, 1 Agustus 2023 - 17:05 WIB

Mengenal Tradisi Babako di Kecamatan Sutera

Selasa, 11 Juli 2023 - 19:42 WIB

Temu Tim Pemrov Sumbar dengan KAN dan Datuk Pucuk 4 Suku serta Datuk 46 Pasie Laweh

Jumat, 9 Juni 2023 - 11:19 WIB

Keberagaman Budaya dan Masyarakat di Provinsi Sumatera Barat

Jumat, 9 Juni 2023 - 11:03 WIB

Keberagaman Budaya dan Masyarakat di Provinsi Sumatera Barat

Berita Terbaru